Doyan Makan Telur Bikin Kolesterol Tinggi, Mitos atau Fakta?

--
Harianokuselatan.bacakoran.co, Telur adalah salah satu sumber protein yang populer dan sering dikonsumsi dalam berbagai bentuk, mulai dari telur rebus, ceplok, hingga orak-arik. Namun, ada anggapan bahwa makan telur terlalu sering dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Benarkah demikian? Atau ini hanya mitos belaka? Simak ulasannya berikut ini!
Telur mengandung berbagai nutrisi penting, termasuk protein, vitamin D, vitamin B12, selenium, dan kolin. Selain itu, telur juga mengandung lemak, termasuk lemak jenuh dan lemak tak jenuh. Yang sering menjadi perhatian adalah kandungan kolesterol dalam kuning telur yang mencapai sekitar 186 mg per butir.
BACA JUGA:Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal di OKU Selatan, Pengecer Patok Harga Tinggi
BACA JUGA:Tradisi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia
Dulu, banyak yang percaya bahwa makanan tinggi kolesterol, seperti telur, secara langsung meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah wajar tidak selalu berpengaruh buruk terhadap kadar kolesterol.
Tubuh manusia secara alami menghasilkan kolesterol, dan makanan yang mengandung kolesterol belum tentu meningkatkan kadar kolesterol secara signifikan. Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa konsumsi telur tidak berhubungan langsung dengan peningkatan risiko penyakit jantung bagi orang yang sehat.
BACA JUGA:Korban Tewas Gempa Myanmar Bertambah, Bantuan Internasional Terus Berdatangan
BACA JUGA:Gempa Dahsyat Guncang Myanmar, Ribuan Korban Jiwa dan Bangunan Runtuh di Bangkok
Daripada hanya menyalahkan telur, ada beberapa faktor lain yang lebih berperan dalam meningkatkan kadar kolesterol, seperti:
- Konsumsi Lemak Jenuh dan Trans – Makanan tinggi lemak jenuh dan trans, seperti makanan cepat saji, gorengan, dan makanan olahan, lebih berpengaruh terhadap peningkatan kolesterol.
- Gaya Hidup Tidak Sehat – Kurang olahraga, kebiasaan merokok, dan stres juga dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah.
- Genetik – Beberapa orang memiliki kecenderungan genetik untuk memiliki kadar kolesterol tinggi meskipun pola makannya sehat.