Bitcoin Mengalami Penurunan, Analis: Pasar Bearish Kali Ini Tidak Terlalu Parah

Bitcoin Mengalami Penurunan, Analis: Pasar Bearish Kali Ini Tidak Terlalu Parah.-Foto ;ist-

HARIANOKUSELATAN.ID – Harga Bitcoin (BTC) tengah mengalami tren penurunan, namun analis pasar Timothy Peterson menilai kondisi ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Menurutnya, pasar bearish kali ini tergolong ‘relatif lemah’ dan diperkirakan hanya akan berlangsung dalam 90 hari.

Melansir dari Cointelegraph, Peterson yang juga penulis buku Metcalfe’s Law as a Model for Bitcoin’s Value, telah mengamati 10 siklus bearish sebelumnya. Ia menyebut bahwa hanya empat di antaranya yang berlangsung lebih lama, yakni pada tahun 2018, 2021, 2022, dan 2024.

BACA JUGA:Fuso Tetap Dominasi Pasar Truk di Indonesia dengan 27.683 Unit Terjual

BACA JUGA:Cek 7 Komponen Mobil Ini Sebelum Mudik Lebaran

Peterson meyakini harga Bitcoin tidak akan jatuh jauh di bawah level US$ 50.000. Menurutnya, tren adopsi yang terus meningkat menjadi faktor utama yang menjaga harga tetap stabil. Namun, ia juga meragukan kemungkinan Bitcoin menembus US$ 80.000 dalam waktu dekat karena momentum pasar yang masih lemah.

Analis tersebut memperkirakan harga Bitcoin bisa mengalami penurunan dalam 30 hari ke depan sebelum akhirnya mengalami kenaikan sebesar 20-40% setelah 15 April. Kenaikan ini diprediksi dapat menarik kembali investor yang sempat keluar dari pasar, sehingga mendorong harga ke level yang lebih tinggi.

Dampak Geopolitik dan Perdagangan Global

Selain faktor teknikal, kondisi geopolitik global juga menjadi salah satu penyebab tekanan terhadap pasar kripto. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan beberapa mitra dagangnya akibat kebijakan tarif baru yang diterapkan Presiden Trump telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor global.

BACA JUGA:Mudik Pakai Motor Tidak Bisa Dilarang, Ini Tips Aman untuk Perjalanan Lebaran

BACA JUGA:LG U421A Resmi Hadir di Indonesia, Monitor Lengkung dengan Harga Terjangkau

Sebagai respons terhadap tarif tersebut, sejumlah negara menerapkan tarif balasan, sehingga memicu ancaman perang dagang berkepanjangan. Akibatnya, banyak investor mulai menghindari aset berisiko seperti kripto. Data dari Glassnode menunjukkan bahwa persentase Bitcoin yang dimiliki dalam waktu kurang dari satu minggu (Hot Supply) mengalami penurunan drastis dari 5,9% pada November 2024 menjadi hanya 2,3% per 20 Maret 2025.

Menurut analis riset dari Nansen, Nicolai Sondegaard, tekanan akibat ketegangan dagang ini kemungkinan masih akan berlanjut hingga setidaknya April 2025, ketika perundingan internasional dapat membantu meredakan situasi.

Status Bitcoin sebagai Safe Haven Dipertanyakan

Sementara itu, laporan dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa sebagian besar investor ritel telah masuk ke pasar. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi gelombang investor baru yang dapat mendorong harga lebih tinggi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan