Transaksi Stablecoin Sentuh Rp560 Kuadriliun, Salip Visa

Transaksi Stablecoin Sentuh Rp560 Kuadriliun, Salip Visa.-Foto ;ist-
USDT, dengan kapitalisasi pasar mencapai US$146 miliar, tetap menjadi pilihan utama untuk remitansi dan transaksi peer-to-peer (P2P), terutama di jaringan TRON. Namun, pangsa pasarnya mengalami penurunan dari 69 persen menjadi 64 persen.
Sebaliknya, USDC yang dikembangkan oleh Circle mengalami pertumbuhan signifikan. Kapitalisasi pasarnya meningkat dua kali lipat dari US$28,5 miliar menjadi US$56 miliar, naik 4 persen, dan kini mencakup 24,5 persen dari pasar stablecoin.
Keberhasilan USDC didukung oleh kepatuhan regulasi di Eropa dan Timur Tengah, termasuk persetujuan MiCA di Uni Eropa serta DIFC di Dubai. Circle juga memperluas jangkauannya melalui kemitraan strategis dengan MoneyGram dan Stripe, yang mempercepat adopsi USDC dalam sistem pembayaran global.
Sementara itu, USDT tetap dominan di sektor remitansi, dengan adopsi yang luas di negara berkembang sebagai alternatif sistem keuangan tradisional.
Tantangan Besar Stablecoin
Meski transaksi stablecoin telah melampaui jaringan pembayaran tradisional seperti Visa, sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal regulasi, transparansi cadangan, dan kepatuhan terhadap standar keuangan internasional.
BACA JUGA:WhatsApp Segera Hadirkan Fitur AI Rewrite, Bisa Tulis Ulang Chat Jadi Lebih Lucu
BACA JUGA:Huawei Resmi Luncurkan Pura X, Ponsel Lipat Flip dengan Desain Unik
Saat ini, 91 persen dari total suplai stablecoin didukung oleh cadangan fiat, seperti uang tunai dan surat utang, naik dari 90 persen pada tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap model stablecoin yang memiliki kolateral tradisional.
Di sisi lain, stablecoin berbasis cryptocurrency dan algoritmik mengalami penurunan pangsa pasar akibat berkurangnya kepercayaan setelah beberapa kegagalan besar di masa lalu.
Persaingan di sektor ini juga semakin ketat dengan munculnya stablecoin berbasis imbal hasil, seperti USDe dari Ethena dan USDS dari Sky Ecosystem. Model ini mulai menarik minat investor dan trader di sektor DeFi.
Dengan perkembangan ini, masa depan stablecoin bergantung pada keseimbangan antara inovasi teknologi dan regulasi. Stabilitas dan kepercayaan pengguna akan menjadi faktor utama yang menentukan pertumbuhan sektor ini.(arl)