Sumsel Pertingkat Tertinggi ke 3 Penderita Katarak

Dokter RSMH Palembang melakukan tindakan operasi mata untuk menyembuhkan mata pasien dari penyakit katarak. -Foto: Kris Samiaji/Sumeks.-

PALEMBANG, HARIAN OKU SELATAN - Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan Sumsel menjadi provinsi nomor tiga dengan kasus kebutaan tertinggi, setelah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Tingginya angka kebutaan karena letak geografis dan adanya daerah perairan yang sulit akses kesehatan. Untuk itu masyarakat selalu kita anjurkan menjaga mata dengan menggunakan kacamata atau topi guna melindungi dari efek radiasi UV atau paparan sinar matahari yang cukup tinggi," terang Ketua Perhimpunan Dokter Sepesialis Mata Indonesia (Perdami) Sumatera Selatan (Sumsel), dr Riani Erna SpM (K), kemarin.

Tak hanya itu, jaga kesehatan mata dengan cukupi nutrisi, makan sayur dan buah-buahan. "Rutin periksa mata setiap enam bulan sekali," katanya. Ini supaya masyarakat pun terhindar dari penyakit mata, seperti katarak.

Dikatakan, katarak hanya dapat disembuhkan melalui operasi, untuk itu sebagai wujud kontribusi kepada masyarakat, RSUP Dr Mohammad Hosein (RSMH)  Palembang bekerja sama dengan Perdami Sumsel dan Kementerian Sosial menggelar bakti sosial Hari Lanjut Usia Nasional berupa Operasi Katarak di RSMH, kemarin.

BACA JUGA:Istri Minta Cerai, Pelaku Aniaya Kedua Merdua

BACA JUGA:Kolaborasi Polri-TNI Lakukan Patroli Dialogis

Total ada 47 pasien yang berasal dari beberapa wilayah di Provinsi Sumsel menjadi peserta bakti sosial ini. Ia pun berpesan kepada pasien, jangan takut melakukan operasi katarak karena sekarang teknologi sudah canggih. Bahkan pasien tidak perlu menginap, pascaoperasi bisa langsung pulang. 

"Jangan takut bapak ibu, tidak sakit hanya  kayak dicubit. Tiga hari setelah operasi bisa terang melihatnya. Selama tiga hari cukup menjadi orang cantik, jangan lakukan aktivitas, cukup berdiam diri. Jangan angkat berat dulu, jangan sering menunduk dan jangan kena air, wuduknya pakai tayamun," lanjutnya lagi.

Ia juga mengungkapkan, pasien yang masih menunggu giliran jangan tegang. Sebab operasi katarak tergolong operasi ringan dan bius digunakan juga bius lokal. “Kegiatan ini rutin sebagai upaya mengurangi angka kebutaan yang ada. Kita harapkan berjalan lancar dan dapat terus dilakukan dengan memberi banyak manfaat bagi masyarakat," bebernya.

Untuk pasien, pendataannya oleh pihak Kemensos dan RSMH menindak operasinya. "Kemensos yang mendata, lalu membawa ke rumah singgah RSMH  Palembang untuk proses operasi. Karena memang banyak dari luar  Palembang seperti OKU Selatan," katanya.

Direktur Layanan Operasional RSMH Palembang, dr Rahmadian MKM mengatakan awalnya ada 50 pasien yang mendaftar operasi katarak. Namun setelah menjalani beberapa pemeriksaan sebelum operasi, hanya 47 bisa dilakukan operasi. "Salah satu kendalanya karena faktor kesehatan dan usia," jelasnya.

Ia mengatakan operasi katarak merupakan kegiatan kedua, kerjasama dengan Kemensos RI. "Ini juga tak luput peran Perdami dan KSM Mata RSMH. Dengan harapan ke depan terus berlanjut dan lebih baik lagi dalam memberikan manfaat kesehatan bagi masyatakat," tandasnya. 

Salah satu pasien operasi katarak dari OKU Selatan yang enggan menyebut namanya mengaku sudah lama mengidap katarak. "Saya dari OKUS ke RSMH  Palembang ditemani keluarga. Bukan orang tua. Mata kiri tidak bisa melihat sejak 3 tahun lalu," jelasnya.

Selama ini dirinya belum pernah berobat untuk periksa mata karena keterbatasan dana. "Belum pernah berobat, hanya satu mata bisa lihat ini juga tidak terlalu jelas," katanya.

Diketahui mata sebelah kiri pasien ini terlihat ada bintik putih tepat di tengah lensa bola matanya. "Saya sangat bersyukur dan terima kasih ada program ini. Harapannya dengan operasi ini bisa melihat lagi dan program ini terus dilaksanakan sehingga bisa membantu masyarakat untuk bisa melihat terutama yang tidak mampu," ucapnya. (seg)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan