Baca Koran harianokuselatan Online - Harian Oku Selatan

Google Maps Terbatas di Korea Selatan, Ini Alasannya

Ini Penyebab Google Maps Tak Bisa Beroperasi di Korea Selatan.-foto;ist-

LOMBA MEWARNAI

HARIANOKUSELATAN.ID  – Meski dikenal sebagai salah satu negara paling maju dalam bidang teknologi, Korea Selatan justru menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia—bersama China dan Korea Utara—di mana Google Maps tidak bisa beroperasi penuh.

Di Korea Selatan, pengguna Google Maps tidak dapat menikmati petunjuk arah lengkap secara real time. Penyebab utamanya adalah kebijakan pemerintah setempat yang melarang data pemetaan negara disimpan di server luar negeri.

BACA JUGA:Vivo V60 Resmi Diperkenalkan, Segera Hadir di Indonesia

BACA JUGA:Tencent Ubah Promosi Light of Motiram Usai Digugat Sony Terkait Plagiarisme Horizon

Pertimbangan Keamanan Nasional

Masalah ini berakar pada kekhawatiran keamanan nasional. Pemerintah Korsel menilai data pemetaan dengan akurasi tinggi—seperti skala 1:5.000—berisiko membocorkan lokasi fasilitas sensitif, seperti markas militer atau infrastruktur vital, terutama mengingat ketegangan politik yang masih tinggi dengan Korea Utara.

Google telah mengajukan permohonan untuk dapat memproses dan menyimpan data akurat tersebut di server internasional, namun permintaan ini berulang kali ditolak. Terbaru, sebuah komite lintas kementerian yang terdiri dari pejabat pertahanan, luar negeri, transportasi, dan intelijen kembali menunda keputusan izin hingga Oktober 2025 untuk menilai dampak keamanan dan industri secara lebih mendalam.

BACA JUGA:PUBG Mobile Rilis Kostum Gratis Bernadya Elegance Set, Bagian dari Kolaborasi Spesial

BACA JUGA:5 Hero Jungler Terbaik Honor of Kings untuk Push Rank Menurut Pro Player Kagendra, Wiraww

Pemain Lokal Menguasai Pasar Peta Digital

Saat ini, Naver dan Kakao menjadi penyedia utama layanan peta digital di Korea Selatan. Keduanya menawarkan navigasi lengkap dengan integrasi mesin pencari dan layanan pembayaran digital, namun seluruh data disimpan di server domestik.

Google, yang enggan membangun data center khusus di Korsel karena alasan teknis integrasi server global, hanya dapat menyediakan peta dengan akurasi rendah (skala 1:25.000) dan tanpa navigasi real time.

Dampak ke Pariwisata dan Inovasi

Keterbatasan ini dirasakan langsung oleh sektor pariwisata. Data Korea Tourism Organization mencatat, keluhan pengguna aplikasi navigasi meningkat 71% pada 2024, dan 30% di antaranya terkait Google Maps. Turis asing kesulitan menemukan arah atau rute tercepat, terutama di area non-perkotaan.

Selain pariwisata, pengamat teknologi juga menilai kebijakan ini menghambat inovasi startup lokal yang ingin mengembangkan layanan berbasis lokasi dengan cakupan internasional, seperti aplikasi travel atau transportasi lintas negara.

BACA JUGA:iOS 26 Beta 5 Hadirkan Sistem Lampu Indikator Baru di Casing AirPods

BACA JUGA:Badenoch Janji Tekan Penyeberangan Migran di Selat Inggris hingga Nol

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan